gravatar

Parijoto : si ungu kecil liar yang berkhasiat

Bagi kita dan masyarakat awam lainnya tentu asing dengan nama buah parijoto. Apakah buah atau tanaman jenis padi, karena nama depannya pari, yang dalam bahasa jawa berarti padi.
Tapi, jika Anda sudah melihat bentuknya, sangat jauh berbeda dengan tanaman padi, sebab tidak satu ordo dengan padi. Buahnya berwarna putih kemerahan jika masih muda dan akan berwarna ungu kemerah-merahan jika sudah tua. Bentuknya kecil-kecil dengan rasa asam, pahit, sepet bercampur menjadi satu.

buah Parijoto matang

Dikalangan masyarakat pedesaan (terutama yang berada di wilayah dataran tinggi), Parijoto terkenal akan manfaatnya yang sangat beragam. Selain ampuh sebagai obat sariawan, buah ini juga terbukti mampu menanggulangi diare dan sangat dianjurkan bagi ibu hamil.

Hasil studi menemukan bahwa buah yang pada mulanya dibiarkan hidup liar di lereng-lereng gunung ini ternyata mengandung zat kimia berupa kardenolin, saponin, flavonid (terutama pada buah) dan tanin (terutama pada daun). Hal ini juga kemudian menjawab pertanyaan mengapa Parijoto sangat dianjurkan sebagai penambah nutrisi bagi ibu yang sedang mengandung. Umumnya para wanita mengonsumsi parijoto setelah usia kandungan memasuki lima bulan ke atas. Namun tak jarang, sudah mengonsumsi pada usia kehamilan dua-tiga bulan.

Dipercaya, terutama oleh penduduk pedesaan yang berada di daerah Gunung Muria, wanita hamil yang makan rujak buah Parijotho bersama dengan buah Delima akan dikaruniai anak yang ganteng atau cantik serta soleh solihah.
Konon mitos ini terlahir saat istri Sunan Muria yang saat itu hamil, lalu mengonsumsi buah parijoto yang ditemukannya jauh di dalam hutan. Dan bayi yang dilahirkan sehat serta berkulit bersih. Oleh Sunan Muria, hal itu kemudian disebarkan oleh para santrinya dan dipercaya hingga kini.

Berikut penjelasan tentang buah unik yang satu ini :

Kingdom:
Plantae (tumbuhan)
Subkingdom:
Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio:
Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio:
Magnoliophyta (berbunga)
Kelas:
Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas:
Rosidae
Ordo:
Myrtales
Familia:
Melastomataceae
Genus:
Medinella
Spesies:
Medinella speciosa L.

Ciri fisik :
Perdu, tegak, tinggi 1-2 meter.

Ekologi dan penyebaran :
Merupakan tumbuhan liar di lereng-lereng gunung atau di hutan-hutan dan kadang dibudidayakan sebagai tanaman hias. Tumbuh baik pada tanah yang berhumus tinggi dan lembab, pada ketinggian 800 m sampai 2.300 m di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan November-Januari dan waktu panen yang tepat bulan Maret-Mei.

Parijotho banyak dijumpai di desa-desa di lereng Gunung Muria,di lereng ungaran,di daerah dataran tingi Dieng juga banyak dijumpai,yaitu di daerah gunung perahu,pegunungan pakuwojo,dan pegunungan nganjir

Bagian yang digunakan :
Daun dan buah dalam keadaan segar atau setelah dikeringkan.

Khasiat dan pemanfaatan:

Obat sariawan :
buah parijoto segar sebanyak 5 gram, dicuci, ditumbuk halus dan larutkan dalam 100 ml air matang kemudian gunakan untuk berkumur-kumur, sedangkan sisanya diminum.
Obat diare : daun parijoto segar sebanyak 20 gram, dicuci direbus. dengan 400 ml air sampai mendidih selama 15 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore.


Sumber : Kaskus dan Mbah Google

gravatar
(Reply)

Di tempat ane banyak tuh gan.tapi baru tahu deh kalau khasiatnya gede juga.... nice share