
37 Kebiasaan orang tua yang mempengaruhi perilaku anak
Kebiasaan 1 :
Raja yang tak pernah salah

Apa akibatnya?
Ketika proses pemukulan terhadap benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak bahwa ia tidak pernah bersalah. Yang
salah orang/benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia
dewasa. Akibatnya setiap ia mengalami peristiwa dan terjadi kekeliruan,
maka yang keliru atau salah adalah oranglain, dan dirinya selalu benar,
sehingga yang pantas di hukum adalah orang lain yang tidak melakukan
kesalahan.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Yaitu
mengajari ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah
padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit) :“Sayang,
kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya
pelan-pelan saja dulu, supaya tidak membentur lagi.
Kebiasaan 2 :
Berbohong kecil dan sering
Pada
saat kita terburu-buru pergi bekerja, anak kita meminta ikut. Apa yang
kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau
kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke
tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau kita mengatakan,
“Papa hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya,
sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam.
Apa akibatnya?
Dari
contoh diatas, jika kita berbohong ringan/bohong kecil, dapat
mengakibatkan anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua.
Mereka tidak bisa membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau
tidak, sehingga anak menganggap semua yang diucapkan orang tuanya
adalah bohong dan
mulai tidak menuruti segala perkataan kita. Awalnya, anak-anak kita
adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, karena
mereka sepenuhnya percaya pada orang tuanya. Namun setelah anak beranjak
besar mereka mulai tidak menurut. Tanpa sadar kita sebagai orang tua
setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkatalah
jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian :
Sayang, Papa mau pergi bekerja. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo papa
libur dan pergi ke kebun binatang, kamu bisa ikut. Hal ini memang
membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena
biasanya mereka menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang
tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu sabar dan beri
pengertian kepada mereka secara terus menerus. Pastikan kita selalu
jujur dalam mengatakan sesuatu.
Kebiasaan 3 :
Banyak mengancam
Pada
saat kita melihat si Kakak sedang menggangu adiknya, kita sering
mengatakan dengan berteriak dari tempat duduk kita, “Jangan ganggu adik,
nanti papa/mama marah!”
Apa akibatnya?
Dari
sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang dan dilakukan dengan cara
berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa menghentikan
aktifitas kita, bagi mereka itu sudah merupakan suatu ancaman. Terlebih
ada kalimat tambahan “…nanti papa/mama marah.”
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita
tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Cukup dekati si anak. Tatap
matanya dengan lembut, namun perlihatkan bahwa ekspresi kita tidak
senang dengan tindakan mereka, dan dipertegas dengan kata-kata, “Sayang,
Papa/mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini kepada adikmu.
Bila kamu tidak mau meminjamkannya, Papa/Mama akan menyimpan mainan ini
dan kalian berdua tidak bisa bermain. Mainan akan Papa/Mama keluarkan,
bila kamu mau meminjamkannya pada adikmu dan Papa/mama akan makin sayang
sama kamu.” Tepati pernyataan kita itu dengan tindakan nyata.
Kebiasaan 4 :
Bicara tidak tepat sasaran
Pernahkah
kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak suka bila
kamu begini atau begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau melihat kamu
berbuat seperti itu lagi!” Namun kita tidak menjelaskan secara rinci dan
dengan baik, hal-hal yang kita inginkan.
Apa akibatnya?
Anak
tidak mengerti apa yang diingini oleh orang tuanya, sehingga yang
terserap oleh anak adalah hal-hal yang tidak disukai oleh orang tuanya,
sehingga anak terus mencoba hal yang baru dan dari sekian banyak
percobaan yang baru tersebut, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang
tuanya. Hal ini yang mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja
melakukan hal-hal yang tidak disukai orang tuanya dengan tujuan untuk
membuat kesal orang tuanya karena tindakannya selalu salah dihadapan
orang tuanya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Sampaikanlah
hal-hal yang kita inginkan secara intensif pada saat kita menegur
mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai. Dan pada
waktunya, ketika mereka sudah memahami dan melakukan segala hal yang
kita inginkan, ucapkanlah terima kasih dengan tulus dan penuh sayang
atas segala usahanya untuk berubah.
Kebiasaan 5 :
Menekankan pada hal-hal yang salah
Kita
selaku orang tua sering mengeluhkan perilaku anak-anak kita yang tidak
pernah akur dan selalu bertengkar. Apa yang kita lakukan? Melerai atau
memarahi semua pihak. Lalu kita ingat-ingat lagi, apa yang kita lakukan
bila mereka bermain dengan akur atau tidak bertengkar? Seringkali kita
mendiamkan mereka bukan? Tidak menyapa mereka karenaberanggapan tidak perlu dan mereka sudah bermain dengan baik dan tidak bertengkar.
Apa akibatnya?
Dengan
menganggap tidak perlu itulah yang membuat mereka terpicu untuk kembali
bertengkar, karena dengan bertengkar, mereka mendapat perhatian dari
orang tuanya. Dengan mendiamkan mereka karena tidak bertengkar, membuat
mereka juga tidak tahu bila kita senang dengan kerukunan itu.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berilah
pujian setiap kali mereka bermain dengan asyik dan rukun, setiap kali
mereka berbagi di antara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah
dipahami, misalnya :”Nah, gitu dong kalau main. Yang rukun dan mau
saling meminjamkan. Papa/Mama senang dan tambah sayang.” Lalu peluklah
mereka sebagai ungkapan senang dan sayang.
Kebiasaan 6 :
Merendahkan diri sendiri
Bila
anak anda terlalu asyik bermain play station sehingga mengalahkan jam
belajar, apa yang anda lakukan? Mungkin kita sering mengatakan :”Ayo,
matikan play station-mu itu. Awas ya, nanti dimarahi sama papa kalo
pulang dari kerja.” Kita selalu menggunakan ancaman dengan figur yang
ditakuti oleh si anak.
Apa akibatnya?
Dengan
menggunakan ancaman, kita tidak sadar telah mengajarkan kepada anak
bahwa mereka akan menurut jika mereka ditakut-takuti dahulu.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Siapkan
aturan main sebelum kita bicara, setelah siap, dekati anak, tatap
matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti
bermain sekarang atau berikan pilihan, misal : “Sayang, Papa/Mama ingin
kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi? Bila
jawabannya, “lima menit lagi pa/ma.” Kita jawab kembali, “Baik, kita
sepakat setelah lima menit, kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti
setelah lima menit, dengan terpaksa Papa/Mama simpan hingga lusa.”
Setelah persis lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan
sudah lima menit, tanpa kompromi dan tawar menawar lagi. Jika dia tidak
menepati pilihannya, langsung laksanakan konsekuensinya segera.
Kebiasaan 7 :
Papa dan Mama tidak kompak
Seorang
ibu meminta anaknya yang menonton televisi terus menerus untuk
mengerjakan tugas sekolahnya, tapi pada saat yang bersamaan, si bapak
membela si anak dengan mengatakan bahwa tidak masalah bila menonton
televisi terus, dengan alasan supaya anaknya tidak stres.
Apa akibatnya?
Anak-anak
pada umumnya belum dapat memahami nilai benar dan salah. Mereka lebih
cepat menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi
dirinya, sehingga si anak memberi nilai bahwa ibunya jahat dan bapaknya
baik, akibatnya, setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai
melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Perlahan tapi
pasti, anak akan belajar untuk terus melawan terhadap ibunya. Demikian
sebaliknya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Untuk
itu diperlukan peranan orang tua dalam mendidiknya. Peran itu bukan
tugas ibu saja atau bapak saja, tapi keduanya. Ketika orang tua tidak
kompak dalam mendidik anak-anaknya, maka anak tidak akan pernah menjadi
lebih baik. Dihadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal-hal
yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Apabila ada
pandangan yang berbeda dalam mendidik anak, bicarakan hal ini secara
pribadi dengan pasangan kita.
Kebiasaan 8 :
Campur tangan Kakek, Nenek, Tante atau pihak lain
Pada
saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak satu sama lain
dalam mendidik anak-anaknya, tiba-tiba ada pihak ke-3, yaitu kakek,
nenek, om, tante atau pihak lain di luar keluarga inti, yang muncul dan
cenderung membela si anak.
Apa akibatnya?
Bila
dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut
mendidik pada saat orang tua mendidik, anak akan cenderung berlindung di
balik orang yang membelanya, anak juga cenderung melawan orang tuanya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Pastikan
dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki
kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses
pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua. Berikan
pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik
oleh para pihak ke-3.
Kebiasaan 9 :
Menakuti anak
Pada
saat anak kita menangis dan kita berusaha untuk menenangkannya, kita
sering mengatakan kepada si anak :”Eh, kalo nangis terus nanti disuntik
lho …” atau “Kalo kamu nangis terus, Papa/mama panggil pak satpam ya.”
Anak akhirnya memang cenderung untuk berhenti menangis atau merengek dan
menuruti kita.
Apa akibatnya?
Dengan
pernyataan ancaman atau menakut-nakuti, sebenarnya kita telah
menanamkan rasa tidak suka atau benci pada institusi atau pihak yang
kita sebutkan. Anak akan tidak suka atautakut dengan
figur dokter/satpam. Pernyataan mengancam/menakuti akan semakin dipahami
anak sebagai kebohongan orang tua seiring perjalanan tumbuh kembang
anak.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkatalah
jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita memberi pengertian
kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak-anak juga mampu berpikir
dewasa. Jika anak minta dibelikan permen katakan padanya akibat yang
dapat ditimbulkan pada gigi dari pemanis buatan itu. Jika anak tetap
memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu
boleh menangis, tapi papa/mama tetap tidak akan membelikan permen.”
Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam dengan
sendirinya.
Kebiasaan 10 :
Ucapan dan tindakan tidak sesuai
Ada
sebagian orang tua yang menetapkan pola asuhnya dengan menggunakan cara
memberi penghargaan dengan pujian atau bahkan hadiah untuk kebaikan
yang dilakukan oleh anaknya. Contohnya “Jika kamu mau membersihkan
tempat tidurmu, maka di akhir pekan papa/mama mengajakmu jalan-jalan”.
Dan pada akhir pekan, ternyata kita tidak dapat memenuhi janjinya,
sehingga anak kita menjadi marah.
Apa akibatnya?
Anak
memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji, jika kita tidak
menepati janji, maka kita tidak dipercaya oleh anak dan selanjutnya,
anak mulai tidak mau menuruti yang kita minta.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan
pernah mudah mengumbar janji pada anak dengan tujuan untuk merayunya,
agar ia mau mengikuti permintaan kita. Pikirlah dahulu sebelum berjanji
apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji
yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang
jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama
anak untuk mengganti janji itu.
Bersambung .......